BERITA

by

posted date: 2016-12-07

Jakarta (28/11)-- Perpustakaan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI (Kemenko PMK) menghadiri undangan peringatan hari jadi Perpustakaan Ali Alatas Kementerian Luar Negeri RI (Kemlu). Pada tanggal 28 November 2016, Perpustakaan Ali Alatas merayakan hari ulang tahunnya ke 7 tahun. Ulang tahun Perpustakaan Ali Alatas dimeriahkan dengan berbagai kegiatan seperti, peresmian plang nama perpustakaan, pengumuman pemustaka favorit, presentasi tentang layanan jasa perpustakaan, paparan hasil penelitian perpustakaan, bedah buku dan pameran bursa buku. Acara tersebut dilaksanakan di Ruang Nusantara Kantor Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia Jakarta.

Acara dihadiri oleh Ka. Prodi UPI Bandung, Dr. Riche Cynthia Johan, M. Si. Yang memaparkan hasil penelitiannya di bidang perpustakaan dengan judul Pemetaan Profile Pemustaka Internal Kemlu Terhadap Pengelolaan Perpustakaan Ali Alatas. Pemaparan hasli penelitian ini dimoderatori oleh Ka. Bag. PDP Kemlu, Basana M. Sidabutar, M. A. Dari hasil penelitian Johan menghasilkan beberapa rekomendasi yang diperuntukkan bagi Perpustakaan Ali Alatas yaitu, kajian pengguna perpustakaan (user studies) perlu dilakukan, Perpustakaan Ali Alatas perlu menggunakan sistem informasi yang baik demi terlaksananya layanan perpustakaan dan diperlukan kegiatan promosi perpustakaan agar Perpustakaan Ali Alatas dapat dikenal dengan baik oleh pemustaka khususnya pemustaka dari kalangan intern atau pegawai di lingkungan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.

Kegiatan bedah buku yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Ali Alatas mengambil judul buku Politik Luar Negeri Indonesia Terhadap Tiongkok : Memperjuangkan Kepentingan Nasional di Tengah Ketidakseimbangan Kekuatan. Buku yang masih dalam tahap pembuatan ini karangan Dr. Ganewati Wuryandari, M. A. peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan dan Indonesia (LIPI). Bedah buku ini dibahas oleh Teuku Rezasyah, P. hD dari Universitas Padjajaran serta dimoderatori oleh Dr. Bambang Susanto, Sekretaris BPPK Kemlu. Dalam paparan Wuryandari menjelaskan bahwa 2 negara memiliki karakteristik hubungan asimetri, tetapi tidak menutup kemungkinan peningkatan kerjasam, kepentingan nasional untuk menjaga stabilitas keamanan demi tercapainya pertumbuhan ekonomi, dalam hubungan asimetris, yang menjadi kendala Indonesia : kapasitas normative power dan diplomasi multilateral yang tidak seiring dengan kecenderungan Tiongkok dalam penggunaan kapabilitas material dan penekanan pada hubungan bilateral. Selanjutnya Wuryandari juga menjelaskan bahwa dalam kondisi demikian, Indonesia perlu membangun strategi. Prsentasi pembahas buku karangan Wuryandari, Rezasyah memberikan beberapa saran bagi penelitian ini dapat diajukan sebuah tawaran kebijakan.(*)

 

Kembali